Bongkar Gudang (10)

- Juli 2017
I can’t end it easily
I want to start from the beginning again
Wherever I go, because of your thoughts
It’s so hard for me
It’s the same for you too
I am changing, I wait
Only for the day for you
To come back to me
I want to be your last love

Playlist di handphoneku masih memutar lagu yang entah kapan aku masukin. Air mataku terus mengalir sampai perasaanku mulai membaik. Akhir-akhir ini memang aku di sibukkan dengan quality time bersama sahabat-sahabatku namun aku tak bisa mengelak kalau aku sedang sedih. Aku memang sedang memendam suatu perasaan yang memang seharusnya tak ku pendam tapi bagaimana lagi. Siapa yang bisa melarang hati untuk tidak merasakan perasaan itu? 

💔💔💔

"May! Bangun!" seru Risa seraya melepas earphoneku. Astaga aku ketiduran! Aku buru-buru bangun dan berlari ke kamar mandi. Pagi ini aku memang sudah janjian sama Risa nemenin dia ke bandara buat nganter pacarnya. Sebagai sahabat yang baik kapanpun dia butuh pasti aku bakal ada. Eaaa, enggak sih. Memang pengen nemenin aja. "Ihh, kamu nih di line-in gak di balas, di telponin gak di angkat, sekalinya belum bangun!" ujar Risa kesal sekembalinya aku dari kamar mandi.

"Hehehe maaf-maaf. Ketiduran tadi subuh." ujarku.

"Iya begadangan terus Ris dia makanya baru bangun." seru ibuku yang mendengar ocehan Risa. Ribut ah! Aku hanya tersenyum kecut.

"Iyakah tante? Pantesan. Buruan sudah ganti bajumu. Masa kamu mau tank top-an gitu?" seru Risa lagi. Aku buru-buru memakai hoodie andalanku, lalu aku padukan dengan celana jeans model cowok. "May, aku jemput Yuri dulu ya. Ntar aku balik lagi kesini. Buruan sudah! Bentar lagi pesawatnya berangkat nih." 

"Iya iya. Jemput dulu sud." ujarku. Risa langsung keluar dari kamarku. 

Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya mobil Risa datang. Aku langsung masuk ke dalam mobilnya. Risa menggerutu karna tadi sempat kena razia dulu di daerah rumah Yuri. Karena Risa asik ngobrol sama Yuri tentang sesuatu yang tidak aku paham jadi aku ngecek handphone. Anjir ternyata Risa udah ngirim pesan sampai 10 kali dan 5 panggilan. Haduh, sahabat macam apa aku ini. Aku kembali mengecek chat yang lain. Sampah! Cuma chat dari grup-grup gak penting. Ngebahas tugas ospek semua pula. Penat. Tak sampai 20 menit, mobil Risa sudah terparkir rapi. Risa buru-buru langsung keluar dan berlari ke depan pintu bandara. Aku dan Yuri mengikuti Risa dari belakang.

"Mana Sehun?!" seru Risa ke salah satu teman Sehun yang sedang mengantar pacarnya juga.

"Dah didalam. Panggil aja."

"Tolong panggilin nah. Aku takut ada mamanya."

"Entar ya." Teman Sehun masuk memanggil Sehun. Aku menatap ruang tunggu bandara dengan nanar. Beberapa bulan yang lalu aku juga seperti Risa. Menunggu laki-laki yg kami sayangi pergi untuk selamanya. Bandara memang tempat yg menyedihkan. Ia yang memisahkan dan juga mempertemukan.

Risa merengek kepada Sehun ketika panggilan keberangkatan tiba. Sehun mengusap kepala Risa lalu pergi meninggalkannya. Air mata Risa sudah menggenang di pelupuk matanya. Yah, nangis dia. Risa berlari keluar ruang tunggu. Ia menenatap Sehun masuk kedalam pesawat. Dulu aku juga seperti dia. Bedanya, aku sudah sibuk menangis. Menyedihkan.

"Aku gak mau nah ditinggal selama itu. Ya Allaah." rengek Risa. Ia terduduk di bawah seraya menutup wajahnya. Aku hanya bisa menatapnya. Iya, sama persis. Dulu aku juga bilang begitu. AKu bilang kalau aku gak mau ditinggal. Aku masih pingin liat Zuhal disini, aku masih pingin modus, aku masih pingin ngehirup udara yang sama, aku masih pingin tidur di langit yang sama. Dulu Risa mengejekku karna aku tak berhenti nangis sampai di dalam mobil. Katanya aku lebay nangisin Zuhal. Sekalinya nangis juga dia di tinggal Sehun."Aih jangan nangis. Nanti ibuku tau." ujarnya lalu mengusap air matanya. Sayangnya, matanya sudah membengkak.

"Aku juga dulu nangisin Zuhal. Sampe sore lagi. Apa ndak lecek muka." ujarku. Risa malah tertawa. Mungkin dia teringat kejadian itu. "Udah gak usah nangis, ntar kita bisa kok nyamperin dia pas liburan kuliah. Aman aja." hiburku seraya menepuk pundaknya. Risa mengangguk.

"Zuhal, nanti kalau kita kuliah harus satu kota ya. Aku gak mau LDR sama kamu." ujarku. 

"Tapi aku bolehnya di Bandung." kata Zuhal. 

"Di Jogja aja! Nnt kita buat kenangan disanaa." seruku. Zuhal tersenyum seraya menggenggam tanganku. 

"Jogja sama Bandung deket kok. Mending kita kuliah yang bener baru pas liburan aku kesana. Kamu jangan ngikutin aku. Ikutin aja kemauanmu sendiri. Okey?" ujar Zuhal. 

"Aku gamau pisah."

"Kan pisah demi masa depan. Aku gak bakal macem-macem kok."

"Kamu ke samarinda sehari aja aku udah kangen banget apalagi di tinggal berbulan-bulan. Terus juga pas kamu liburan ke Bandung aja kamu susah banget ngabarin aku. Gimana nanti pas kuliah? LDR pula." seruku kesal. Bukannya aku gak percaya sama dia tapi aku bukan orang yang suka nunggu. Bayangin LDR aja rasanya capek.

"Iya deh nanti kalau kita dah kuliah, aku usahain satu kota sama kamu." ujar Zuhal akhirnya. Aku tersenyum. Laki-laki satu ini bisa aja bikin aku tambah sayang. Jangan sampe kita LDR ya Zu, rindu itu berat. Belum lagi nanti ada cewek yang ngelirik kamu. Ku kutuk jadi eek semut tuh cewek!

💔💔💔


“Aku pinjem mobil ya?” izinku kepada ibuku yang asik nonton drama indianya.

“Mau kemana?”

“Mau keliling aja. Pinjem ya?”

“Yaudah. Hati-hati. Gak usah ngebut.”

“Arraseo eomma. Assallammualaikum.” Pamitku dan langsung kabur.

Nanti malam aku sudah berangkat ke Semarang. Aku pingin sore ini menghabiskan waktu dengan kenangan lama yang masih teringat. Aku harap kenangan ini tertinggal saja di sini. Aku tidak ingin kenangan itu aku bawa hingga ke Semarang. Aku mulai menyalakan playlist yang aku bikin buat nemenin jalan-jalan. Di mulai dari lagu Jason Marz – I Won’t Give Up. Ini aku nyalain lagu gak sesuai dengan keadaan ya. Aku dengerin cuma karna itu lagu mengingatkan aku pada sesuatu. Itu doang. Aku mulai jalan-jalan menuju SMP. Kenapa aku memulai dari SMP? Karna semuanya berawal dari sana.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya aku sampai. Aku memarkir mobil di depan SMP. Di sekolah sepi. Ya, sepilah wong ini aja hari minggu. Muehehehe. Dulu, Zuhal selalu nongkrong di depan kolam dekat gerbang. Tebar pesona di depan kolam. Mau pedekate sama ikan dia soalnya dia siluman ikan. Kalau bohong, langsung keliatan ekornya.

“May!” Panggil Zuhal ketika aku keluar gerbang menuju bis.


“Kenapa?” Tanyaku.


“Pulang naik apa?” Tanyanya.


“Naik bis dong.”


“Yah, kirain jalan kaki.”


“Capek ah. Enak naik bis.”


“Aku ikut ya.”


“Eh? Gak usah. Kamu loh tinggal jalan kaki. Ntar kalau kamu ikut pulang ke rumahku makin jauh.”


“Gapapa. Ayo.” Zuhal menarik tanganku. Mukaku memerah karna orang-orang memperhatikanku dan Zuhal. Aku suka ketika Zuhal tiba-tiba menggenggamku. Tangannya yang lebih besar di banding tanganku jadi terlihat sangat serasi. Di tambah lagi kulit kami yang kontras. Benar-benar cocok. Aku dan Zuhal masuk ke dalam bis. Temen-temenku memperhatikanku dan Zuhal. Termasuk mantan doiku. Zuhal memilih tempat duduk yang hanya dua kursi dan berada di belakang. Ia menyuruhku masuk duluan.


“Zu, serius gapapa?” tanyaku memastikan. Dia tersenyum senang dan mengangguk seperti anak anjing. Sangat lucu.


“Aku pingin lama-lama sama kamu.” Ujarnya membuat jantungku berdegup kencang. Aku juga pingin lama-lama sama kamu. Zuhal mencuri-curi kesempatan menggenggam tanganku. Aku menahan senyumku. Ahh, dia bisa membuatku pingsan saat ini juga! Aku menutup tangan kami dengan tasku. Zuhal hanya senyum-senyum lalu menyenderkan kepalanya di bahuku.


“Jangan gitu Zu! Malu!” bisikku.


“Ndapapa. Biar semua orang tau kalau kamu punyaku.” Ujarnya masa bodoh. Aku menenggelamkan kepalaku biar tidak terlihat orang-orang. Aku benar-benar malu tapi senang juga sih. Aku memperhatikan Zuhal yang memejamkan matanya. Kenapa dia terlihat seperti anak kecil? Menggemaskan!! Aku melirik orang-orang sekitar. Aman. Aku buru-buru mencium kepalanya. Aaaa, aku menyukai bau rambutnya. “Aku belum keramas loh.” Ujarnya.


“Gapapa. Aku suka.”


“Ih, bau bodoh! Kok malah suka sih.”


“Kamu keringetan aja aku suka nyiumin.”


“Aneh ini orang.”


“Yaudah sana. Ngapain kamu sama orang aneh.”


“Ih, becandaan doang Amay.” Aku hanya tersenyum simpul. Zuhal tertawa lalu menciumi tanganku. “Jangan marah.” Bisiknya.

“Iyaa. Aku tau kamu cuma becandaan doang Huzal. Cium lagi nah.”

“Apa? Cium pipi?”


“ENGGAK!”


“Hahaha iya iya.” Zuhal kembali menciumi tanganku. Aku juga suka ketika Zuhal mencium tanganku. Di cium tiap haripun aku suka. Hahaha.

💔💔💔

Lagunya mas Jason Marz habis, lamunanku buyar. Kemudian lanjut ke lagu berikutnya yaitu Fiersa Besari - Celengan Rindu. Pas banget nih. Lagi kangen soalnya. Aku memperhatikan halte yang berada di atas. Dulu, Zuhal selalu nungguin aku disana sampai busku pergi. Padahal cuacanya lagi panas-panasnya tapi dia tetep nungguin. Kadang gak tega tapi dia kalau di kasih tau ngotot. Hal kecil yang dia buat bikin hatiku bilang "ayo nah balikan!!!" tapi ga mungkin. Okey, lanjut rute kedua yaitu rumahku yang dulu. Sebenarnya lewat rumahnya Zuhal sih tapi entaran ajalah belakangan. Aku menyalakan mobilku dan pergi menuju rute kedua.

Selama perjalanan ke rumahku yang dulu, aku sekalian memperhatikan jalanan pejalan kaki. Mataku seperti melihat bayanganku dengan Zuhal disana. Zuhal berjalan di sampingku seraya tersenyum. Mendadak hatiku teriris. Rasanya rindu kali ini menyakitkan.

"Udah sana Huzal pulang!" seruku seraya mendorong tubuhnya.

"Gak mau." serunya.

"Ihh, rumah kamu tuh disana! Bukan disana!" aku menunjuk arah rumahnya dan arah rumahku. Zuhal tetap berjalan ke arah rumahku. "Huzaaal!"

"Aku mau anterin pacarku pulang."

"Aku bisa pulang sendiri."

"Enggak. Aku harus mastiin kamu pulang dengan selamat."

"Huzaaal." Zuhal menatapku.

"Kamu gak mau aku anterin pulang?"

"Bukannya gitu sayang..."

"Yaudah kamu pulang sendiri aja."

"Aihh, iya iya deh anterin aku pulang yuk. Ayooo!" Aku menarik tangan Zuhal. Zuhal tersenyum senang. Kelakuannya selalu begitu. Gak pernah berubah.



Air mataku mulai mengalir. Sedih rasanya kalau keinget waktu masih bisa sama Zuhal kapan aja. Sekarang, penuh gengsi. Mau ngechat harus mikir matang-matang dulu. Mau ngobrol pun juga harus begitu. Kali ini aku benar-benar rindu. Aku pingin ngulang waktu ke jaman itu. Aku memberhentikan mobilku di depan rumah lamaku. Aku memperhatikan rumah yang sekarang sudah di tempati orang lain. Rumah itu banyak kenangannya. Semua ada disana. Termasuk perasaanku.

Aku sibuk memilah-milih pakaian untuk nanti malam. Begitupun juga ibu dan tanteku. Nanti malam aku dan Zuhal bakal datang ke acara prom night kakak kelas. Aku dan Zuhal ditunjuk sebagai perwakilan dari kelasku. Pokoknya malam ini aku harus cantik! Aku pingin Zuhal tambah suka sama aku. Aku mencoba baju yang di pilih ibuku namun aku tidak suka karna sudah beberapa kali ku pakai hingga akhirnya tanteku memberiku dress bunga-bunga berwarna peach miliknya. Aku coba daaaann aku suka!! Karna kulitku terang di paduin sama dress warna peach jadinya cocok.


“Itu bagus. Pakai aja yang itu. Ntar tinggal pakai cardigan hitam.” ujar tanteku.


“Sip deh!”


“Nanti kamu harus make up biar cantik.” ujar ibuku.


“Gak usah. Kan yang prom night kakak kelasku bukan aku.” seruku.


“Ah gapapa. Pake bedak aja sama lipstick tipis.”


“Gak, gak!”


“Yasudah kalau gitu. Nanti siapa yang jemput kamu?” tanya Ibuku. Aku terdiam sebentar. Bilang gak ya kalau aku dijemput Zuhal? Aih, aku takut. Ibuku menatapku dengan penuh tanda tanya.


“Di jemput.. Zuhal.” Jawabku.


“Wihh, kayak orang pacaran aja kamu.” Goda tanteku diikuti senyum ibuku. Aku tersipu malu ketika tanteku bilang ‘pacaran’ karna aku belum resmi pacaran sama Zuhal.


“Oh, yaudah hati-hati nanti. Kamu kan pake dress.”


“Iya.”


Akhirnya malampun tiba. Aku sudah siap dengan outfitku. Aku tersenyum malu di depan cermin. Haduh, rasa mau ngedate sama pacar. Refleks aku jingkrak-jingkrak saking senengnya. Udah cantik belum ya? Aaa, grogi. Aku membenarkan jilbabku yang tidak rapi. Pakai kacamata gak ya? Gak usah aja ah. Kata Zuhal kan aku lebih cantik gak pake kacamata. Mending kacamataku ku taruh di tas. Tak lama kemudian Zuhal datang, aku tergopoh-gopoh menenteng flatshoes. Malam ini jadi putri semalam gapapa lah ya. Aku membuka pintu rumah. Ku lihat Zuhal mengenakan kemeja berwarna abu-abu dan celana jeans biasa. Kenapa malam ini dia tampan sekalii!! Aku menatap Zuhal seraya memakai flatshoes.


“Cocok sudah kamu sama Zuhal. Kayak orang pacaran.” Goda ibuku seraya melihat Zuhal. Jantungku berdegup kencang mendengar ibuku berkata seperti itu.


“Ih, biasa aja!” seruku lalu pamit. Aku berlari menghampiri Zuhal. Zuhal menatapku dari atas sampai bawah. Ah, aku tau pasti dia kagum. Aku tersenyum malu.


“Naik cepet.” ujarnya jutek. Eh sialan ini manusia! Aku segera duduk di belakangnya. Bau parfumnya sudah tercium. Bau favorit. Motor Zuhal langsung meninggalkan rumahku. Di perjalanan aku dan Zuhal hanya diam-diaman. Sebenarnya aku dan Zuhal sempet slek gara-gara aku bilang aku gamau ke sana bareng dia sebagai perwakilan. Bukan maksudku aku malu datang bareng dia, aku cuma pengen ngeredam celotehan anak-anak aja kalau aku sama Zuhal memang ada apa-apa. Terus dia pakai maksaku datang sama cowok lain. Yaudah, biar aku sama dia gak pisah lagi jadinya aku bujuk dia buat mau.


Sesampainya di tempat acara, Zuhal jalan lebih dulu di banding aku. Aku kesel setengah mati sama dia. Masa akunya di tinggal gini. Bikin badmood aja! Aku menggerutu kesal di belakangnya. Laki-laki macam apa kamu! Coba liat cewek lain! Pada di tuntun gitu. Aku?? Di diemin. Di tinggal. Setelah masuk, aku dan Zuhal duduk di paling belakang. Awalnya Zuhal duduk di sampingku tapi setelah itu dia duduk menjauh dariku. Aku sempet ngecairin suasana sih biar gak diem-dieman. Masa aku dah dandan cantik-cantik gini di diemin. Huft.


“Masih marahan sama Zuhal?” tanya temanku. Aku mengangguk.


“Biasa lah Zuhal. Cemburuannya over banget. Kadang suka kesel sih tapi yaudahlah. Aku harus ngertiin dia juga. Aku harus bisa nyeimbangin diri.” Ujarku.


“Kuatnya kamu May. Yaudah, moga cepat baikan ya. Gak enak liat kalian pisah-pisahan gini.” Ujar temenku.


“Thanks.” Aku memperhatikan Zuhal. Dia terlihat asik menonton pentas. Hah, Zuhal duduk di sampingku nah. Pengen berduaan sama kamu. Zuhal mendadak noleh ke arahku. Aku memberi isyarat suruh dia duduk di sampingku tapi dia menolak. Bazing. Di tolak mentah-mentah aku.

Selama acara berlangsung, aku menikmati petunjukan yg di mainkan. Mulai dari nyanyi hingga perkusi. Aku sangat menikmati bagian kakak kelasku bernyanyi. Aku bersorak riuh setelah ia selesai bernyanyi. Tiba-tiba aku teringat kalo aku kesini sama Zuhal. Buru-buru aku menoleh ke arah Zuhal. Mampus perang dunia ke 4 di mulai. Zuhal menatapku tajam. Wajahnya sudah bertekuk-tekuk. Aku menelan liurku bulat-bulat. 

"Huzal, maafin Maya." bujukku setelah selesai acara. Zuhal hanya diam saja. Aku terus meminta maaf sampai akhirnya Zuhal membalikkan badannnya.

"Seneng kan sama tuh cowok? Jatuh cinta ya sama dia sampe segitunya? Udah sana. Kamu sama dia aja." marah Zuhal.

"Bukan maksudku begitu Huzal. Maafin Maya nahh. Maya salah." 

"Pulang aja sana sm dia."

"Ya Allah Zu. Kok kamu gitu sih.."

"Cepet sudah naik. Aku mau cepet pulang." Akhirnya aku menuruti apa katanya. Kenapa sih Zuhal selalu begitu. Selalu ngira laki-laki yang aku kagumi itu bakal aku cintai. Padahal laki-laki yang selalu aku cintai tentunya dia. Cuma dia. Gak ada yang lain. Mana bisa aku ninggalin laki-laki spesial kayak dia. Selama perjalanan, aku dan Zuhal hanya diam seraya mendengarkan suara angin malam yang terdengar sendu.

--

Selalu ada saja kejutan yang di kasih Zuhal selama pacaran. Entah tiba-tiba dia kirimin takoyaki karna aku kelaparan, atau kirimin bunga karna aku ngambek, atau kirimin surat cinta karna aku badmood. Aku ingin itu terulang lagi. Aku ingin menjadi seseorang yang sangat spesial setelah keluarganya. Aku ingin terus mendapatkan cinta darinya. Aku ingin tua bersamanya. Aku menatap nanar rumah yang memiliki banyak kenangan bersama Zuhal. Tangisanku terus mengalir. Sangat menyedihkan menjadi seseorang yang selalu mencintai org yang tidak mencintai balik. Akhirnya aku putuskan buat ke rute selanjutnya yaitu ke GOR. Disana ada beberapa percakapan yang terkadang bikin aku nangis di tengah jalan.

Lagu yang sekarang lagi terputar yaitu Aerosmith - i don't wanna miss a thing. Aku kembali menatap pemandangan yg ada di hadapanku. Sebuah jalan raya yg juga penuh kenangan. Biasanya aku sama Zuhal naik motor berdua. Habis pulang sekolah selalu nganterin lewat sini.

"Huzal, jangan laju-laju perut Maya sakit!!"
"Huzal, Maya peluk ya? Pengen peluk."
"Huzal, kalau misalnya aku punya penyakit mematikan terus aku minta nikah sama kamu mau ato enggak?"
"Huzal, quality time yuk."
"Huzal, ayok jalan-jalan sebelum pulang"
"Huzal..."
"Huzal..."

Huzal. Panggilan itu yang selalu aku katakan. Panggilan manja yang hanya aku saja boleh sebut. Panggilan sayangku buat Zuhal. Jujur, aku rindu memanggilnya Huzal. Aku ingin terus memanggilnya dengan panggilan tersebut. Aku hanya bisa menyebut kata Huzal kalau sedang rindu. Aku memanggilnya. Berharap ia dengar. Bodoh. Benar-benar bodoh. Tangisku semakin pecah. Aku menutup wajahku dengan tanganku. Aku membiarkan diriku menangis seraya mendengarkan lagu tersebut.

Ini bukan pertama kalinya aku dan Zuhal kemari. Sudah kesekian kalinya aku dan dia kesini. Hanya ingin menghabiskan waktu bersama. Melihat danau keruh, taman bermain yang sepi, dan suara burung-burung gereja yang mengisi hampanya suasana.

"Huzal, ayo foto. Aku mau foto bareng kamu." Ujarku. Karna dulu hapeku kamera depannya busuk kek hape nokia jaman dulu jadi fotonya pake hapenya Zuhal. Setelah puas foto-foto, tiba-tiba Zuhal menggenggam tanganku. Aku terkejut sm tindakannya yang tiba-tiba gitu. "Zu nanti di liat orang-orang."

"Gapapa ah. Kita kan pacaran. Aku mau foto tangan kita." ujar Zuhal lalu memoto tangannya yang menggenggam tanganku. Seneng deh dia sekarang inisiatif dan jiwa romantisnya keluar.

"Bagus?"

"Bagus dong. May, kamu pake make up kah? Kok alismu beda?" Celetuk Zuhal seraya melihat alisku.

"Hehehe iya. Aneh ya?" Tanyaku sambil melihat wajahku di hapenya.

"Pake lipstick juga

"Hm."

"Ayo jalan-jalan kesana." Ajak Zuhal lalu menggandeng tanganku. Oke, aku gajadi marah. Tanganku di gandeng dah bikin aku seneng kok. Hehehe.

💔💔💔

Rute selanjutnya aku melewati gedung serba guna atau di kenal MPB. Disana kebanyakan kenangan buruknya. Mulai dari promday SMP yang ga sempet foto karna aku badmood sm Zuhal, gastra kelas 1 SMA pas aku ngambek sama dia gara-gara dia ga peduli sm aku terus lebih milih foto sama cewek lain (fakyu kamu Zu!), gastra kelas 3 SMA juga dia foto sm cewek lain yaa sbnrnya tiap ada acara sih dia selalu fotbar sama cewek lain dasar kegantengan, dan yang terakhir pas vifest kelas 2 dia foto sama cewek tapi begaya pake love2. Mamam tuh love!

Aku memperhatikan Zuhal dari atas panggung. Jariku sudah membatu melihatnya bersama wanita lain. Liat aja kamu Zu, pulang-pulang aku kunciin pintu. Ga dapat jatah! Jatah makananmu tak ambil. Teman-temanku memaksaku untuk foto bareng tapi aku menolak karna sudah badmood parah. Aku langsung turun dari panggung lalu menuju parkiran. Sok kegantengan banget sih. Jadi cowok lanjik banget. Ndak tau apa mantannya ini udah berapi-api. Mau meledak ini kepala kek gunung meletus. Aku buru-buru memasang helmku. Mataku melirik spion. Zuhal keluar sendirian. Gonceng sud cewekmu sna. Bawa pulang! Aku menggerutu kesal sambil menyalakan motor. Tiba-tiba Zuhal mengklakson motornya kepadaku. Dia tersenyum manis. GAK USAH SENYUM KAYAK GITU YA. AKU INI LAGI MAU MARAH SAMA KAMU, JANGAN KAMU BIKIN MELELEH anjing.

Zuhal : dah pulang?
Aku : udh
Zuhal : capek yaaaa
Aku : iya
Zuhal : tadi siang kamu kemana?
Aku : pulang
Zuhal : loh kenapa?
Aku : gapapa
Zuhal : kamu kenapa sih??
Aku : gapapa
Zuhal : kalo aku salah bilang
Aku : (lah itu kamu udah tau njing kalo salah. Ini orang pengen di tenggelamin di sungai amazon sana ya!) Gapapa
Zuhal : mayyyy
Aku : apasih
Zuhal : kamu marah ya?
Aku : ya menurutmu aja
Zuhal : aku kenapa sih??
Aku : ya coba aja inget2 apa yg kamu lakuin tadi
Zuhal : aku tiba-tiba nyapa kamu?
Aku : bukan
Zuhal : ga foto barengnpas di ending?
Aku : gak
Zuhal : terus apa dong?
Aku : kamu tuh kenapa sih ga pernah sadar?! Aku cemburu kamu foto sama tuh perek! Ngapai kamu love2 sama dia? Suka? Keknya sih iya. Akhir-akhir ini aja kamu deket sama dia. Ck.
Zuhal : orang cuma temen
Aku : semuanya kamu bilang temen tapi pernah gak kamu begitu sama yang lain???
Zuhal : dia ngajakin tadi may makanya aku mau. Gak enak lah nolak
Aku : aku juga gak enak nolak diajak fotbar sama cowok lain
Zuhal : kamu tuh kenapa sih orang cuma temen doang
Aku : aku juga cuma temen sm yang lain
*endingnya kita berantem*

Aku terkekeh mengingat kejadian itu. Kenapa kita keliatan masih anak kecilnya sih? Sangat lucu. Aku melewati lagi jalur yang sama menuju rumah Zuhal. Rumah Zuhal kosong. Sepertinya ayahnya belum pulang. Aku memarkirkan mobilku di depan rumah tetangganya. Rumah Zuhal juga banyak kenangannya. Dulu pertama kali aku ke rumahnya karna ada tugas kelompok. Waktu itu aku belum deket sama adiknya. Deketnya pas adeknya masuk SMP. Terus pas jaman pacaran, aku sama Zuhal suka quality time di rumahnya kalau lagi kosong. Enak memang kalau rumah kosong buat quality time. Rasa dunia milik berdua, nerakanya juga milik berdua cin. Setelah beberapa kali ke rumahnya, aku, Zuhal sama mamanya ngobrol bertiga diruang tamu dan mamanya nyuruh aku panggil 'bunbun' secara ga langsung aku di restuin dong ya jadi menantunya. Sumpah seneng banget pas dapat panggilan kesayangan begitu. Tapi sayang bun aku sudah bukan calon menantu bunbun lagi. Padahal pingin, hm sedih. Pas ultah adiknya, aku di undang terus di kenalin kalau aku pacarnya Zuhal ke keluarganya. Anjeng mantaplaaah tapi sayang udah bukan hah. Terus dulu juga suka di ajak Zuhal masuk ke dalam kamarnya. Sebelum pulang, pelukan dulu di ujung kamar. Suka loh aku. Hihihi. Waktu itu juga main PS berdua, nonton barbie berdua hahaha, terus belajar bareng yang ujung-ujungnya quality time uhuyyy! Rindunya jaman-jaman itu.

Lagu Payung Teduh - untuk perempuan yang sedang dalam pelukanku mengalun merdu dalam mobilku. Mungkin hari ini, detik ini, aku harus bisa melepaskan semuanya. Aku harus terus berjalan tanpa perlu menunggunya lagi ataupun berdiri di belakangnya. Gak mungkin kan di Semarang nanti aku bawa kenangan-kenangan itu? Dan ga mungkin di Semarang nanti aku masih ngurusin dia deket sama cewek mana. Aku rasa cukup disini saja perasaan itu ada. Aku akan melepasnya dan meninggalkannya. Toh selama aku menunggupun, aku dan Zuhal tak pernah kembali seperti dulu. Memang Tuhan sudah memberi tau bahwa aku dan Zuhal bukan di takdirkan untuk bersama selamanya seperti yang aku harapkan. Aku dan Zuhal hanya sepasang anak yang ditakdirkan untuk saling membahagiakan saja. Membahagiakan satu sama lain dalam waktu yang sebentar. Kadang suka sedih sih karna aku sama Zuhal endingnya bakal kayak gini. Apalagi aku yang ternyata harus susah move on dari dia. Aku gak akan memarahi siapapun ataupun memarahi Tuhan sekalipun kok. Aku sadar seiring berjalannya waktu aku harus bisa mengambil hikmahnya walaupun menyakitkan.

Sampai jumpa Bontang. Kota yang selama ini di penuhi oleh bayangan laki-laki luar biasa yang sangat aku sayangi hingga detik ini. Jika aku kembali, sambutlah aku dengan kenangan manis itu ya. Hingga kapanpun aku akan terus menikmati kenangan itu bersamamu. Malam ini aku akan menitipkan kenangan itu padamu. Tolong di jaga baik-baik ya.

If we’re born again, if we love again

Let’s not do this again

Let’s meet a little less

Let’s hope a little less

Let’s not make many promises

So even if we say goodbye

We can turn away without much pain

Let’s only make light memories that we can throw away

In each other’s hearts

Now I know that a love too deep

Brings a sad ending

My love, I’ll pray for your next love

That it won’t be like us, that it’ll be without pain

Please be happier than me

Bye Bontang, kenangan, dan juga bayangan laki-laki istimewaku❣


(S E L E S A I) 
 ndausah komen kalau ada yang typo ato gak nyambung. malas ngedit njing.

Komentar

Postingan Populer